
Unit 731 menjadi salah satu nama paling kelam dalam sejarah Perang Dunia II. Di balik nama yang terdengar seperti sebuah institusi militer biasa, terdapat organisasi rahasia Kekaisaran Jepang yang melakukan penelitian senjata biologis sekaligus eksperimen terhadap manusia.
Yang membuat kisah ini semakin mengerikan, Unit 731 tidak dibangun oleh orang-orang yang tidak memahami ilmu pengetahuan. Di dalamnya terdapat dokter, ilmuwan, dan tenaga medis yang menggunakan pengetahuan mereka untuk kepentingan perang.
Lebih mengejutkan lagi, setelah Jepang kalah pada 1945, tidak semua orang yang terlibat di dalamnya mendapatkan hukuman.
Apa Itu Unit 731?

Unit 731 merupakan organisasi rahasia militer Jepang yang secara resmi menggunakan kedok penelitian pencegahan epidemi dan penyediaan air. Unit ini berkembang di wilayah Manchuria yang saat itu berada di bawah pendudukan Jepang.
Pusat utama Unit 731 berada di Pingfang, dekat Harbin, dan berkembang menjadi kompleks penelitian yang sangat besar.
Tokoh paling terkenal di balik organisasi tersebut adalah Shirō Ishii, seorang dokter sekaligus perwira Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.
Ishii memiliki ketertarikan besar terhadap perang biologis. Ia meyakini bahwa penyakit menular dapat digunakan sebagai senjata dan mendorong pengembangan penelitian biologis untuk kepentingan militer.
Bagaimana Unit 731 Bisa Berdiri?

Cikal bakal program penelitian Ishii telah berkembang sejak awal 1930-an. Pada 1936, Jepang secara resmi membentuk Unit 731 sebagai bagian dari program penelitian militer.
Lokasinya di Manchuria memberikan keuntungan bagi Jepang karena wilayah tersebut berada jauh dari pusat Jepang dan berada di bawah kendali militernya.
Dari luar, fasilitas tersebut terlihat seperti pusat penelitian medis. Namun di dalamnya berlangsung penelitian yang jauh dari prinsip kedokteran modern.
Unit 731 kemudian berkembang menjadi bagian dari jaringan penelitian perang biologis Jepang dengan berbagai unit terkait di China.
Eksperimen terhadap Manusia

Bagian paling kelam dari sejarah Unit 731 adalah penggunaan manusia sebagai objek eksperimen.
Para tahanan, yang berasal dari berbagai kelompok etnis dan kebangsaan, diperlakukan bukan sebagai pasien atau manusia yang harus dilindungi, melainkan sebagai objek penelitian.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana penyakit menular berkembang dan bagaimana berbagai kondisi ekstrem memengaruhi tubuh manusia.
Penyakit seperti pes, kolera, antraks, tifus, dan disentri menjadi bagian dari penelitian mereka.
Beberapa eksperimen juga berkaitan dengan suhu ekstrem, luka, penyakit, serta efek berbagai kondisi terhadap tubuh manusia.
Banyak korban tidak selamat dari eksperimen tersebut.
Istilah “maruta”, yang berarti “batang kayu”, juga sering dikaitkan dengan cara sebagian personel Unit 731 menyebut para tahanan. Istilah tersebut menunjukkan bagaimana korban didehumanisasi agar lebih mudah diperlakukan sebagai objek penelitian.
Unit 731 dan Senjata Biologis

Tujuan Unit 731 tidak berhenti pada penelitian di laboratorium.
Jepang juga mengembangkan kemampuan perang biologis dan melakukan operasi yang melibatkan penyebaran agen penyakit di wilayah China.
Karena itu, pembahasan mengenai korban Unit 731 tidak hanya berkaitan dengan orang-orang yang meninggal di dalam fasilitas penelitian.
Dampak perang biologis Jepang di luar fasilitas juga menjadi bagian dari sejarah tersebut.
Jumlah korban secara keseluruhan masih menjadi perdebatan karena banyak dokumen dihancurkan dan cakupan perhitungannya berbeda-beda. Yang jelas, dampaknya tidak terbatas pada kompleks Pingfang saja.
1945: Ketika Jepang Kalah, Bukti Mulai Dihancurkan

Pada 1945, keadaan Jepang semakin terdesak.
Ketika Uni Soviet melancarkan serangan terhadap Jepang di Manchuria pada Agustus 1945, keberadaan Unit 731 berada dalam bahaya.
Menjelang berakhirnya perang, fasilitas tersebut dihancurkan dan berbagai bukti berusaha dihilangkan.
Shirō Ishii dan sejumlah personel kemudian kembali ke Jepang.
Namun berakhirnya perang ternyata tidak otomatis berarti berakhirnya kisah Unit 731.
Justru setelah 1945 muncul salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.
Mengapa Tidak Semua Dokternya Dihukum?

Setelah perang, Amerika Serikat melakukan penyelidikan terhadap aktivitas perang biologis Jepang.
Para penyelidik Amerika juga menunjukkan ketertarikan terhadap data penelitian yang diperoleh Unit 731.
Sejumlah mantan anggota Unit 731 kemudian memberikan informasi kepada pihak Amerika mengenai penelitian yang mereka lakukan.
Dalam proses tersebut, beberapa tokoh penting Unit 731 memperoleh kekebalan dari penuntutan.
Keputusan tersebut hingga kini menjadi bagian paling kontroversial dari sejarah Unit 731.
Di satu sisi, Amerika memperoleh informasi mengenai penelitian perang biologis Jepang. Di sisi lain, keputusan tersebut berarti sebagian orang yang terlibat dalam eksperimen manusia tidak pernah menghadapi pengadilan atas peran mereka di Unit 731.
Tidak Semua Anggota Unit 731 Lolos

Namun bukan berarti seluruh personel Unit 731 bebas begitu saja.
Sebagian personel ditangkap Uni Soviet setelah Jepang kehilangan kendali atas Manchuria.
Mereka dinyatakan bersalah dan menerima hukuman penjara dengan masa hukuman yang berbeda-beda.
Pengadilan tersebut menjadi salah satu sumber penting mengenai program perang biologis Jepang setelah Perang Dunia II.
Lalu Apa yang Terjadi pada Shirō Ishii?

Ironisnya, Shirō Ishii tidak pernah menjalani hukuman penjara atas perannya dalam Unit 731.
Ia kembali ke Jepang setelah perang dan menjalani kehidupan di luar penjara.
Ishii meninggal pada 1959.
Sementara itu, sejumlah mantan dokter dan ilmuwan yang terlibat dalam jaringan Unit 731 juga kembali menjalani kehidupan sipil. Beberapa di antaranya kemudian melanjutkan karier di bidang kedokteran, penelitian, maupun akademik.
Nasib tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Unit 731 masih menjadi topik kontroversial hingga sekarang.
Mengapa Sejarah Unit 731 Penting untuk Diketahui?

Unit 731 bukan sekadar kisah mengerikan dari masa perang.
Sejarahnya memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat disalahgunakan ketika manusia diperlakukan sebagai objek dan nilai kemanusiaan dihilangkan.
Yang juga penting, kisah Unit 731 menunjukkan bahwa berakhirnya sebuah perang tidak selalu berarti semua korban mendapatkan keadilan.
Sebagian bukti dihancurkan. Sebagian pelaku diadili. Namun sebagian lainnya justru kembali menjalani kehidupan normal.
Karena itu, membicarakan Unit 731 bukan berarti sekadar mengungkit masa lalu.
Sejarah ini perlu dipelajari agar kejahatan terhadap manusia tidak berubah menjadi sekadar angka atau catatan kaki dalam buku sejarah.
Unit 731 mengingatkan dunia bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya.
Dan mungkin, bagian paling mengerikan dari kisah ini bukanlah bahwa Unit 731 pernah ada.
Melainkan kenyataan bahwa orang-orang yang berada di dalamnya adalah manusia nyata, dengan pendidikan dan keahlian nyata, yang memilih menggunakan kemampuan tersebut untuk melakukan kejahatan.