
Film Indonesia tentang perjuangan anak muda tidak selalu harus menghadirkan kisah sukses yang gemerlap. Justru, cerita yang paling terasa dekat adalah ketika tokohnya masih berada di fase berantakan: belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, masih mencari arah hidup, atau tiba-tiba harus memikul tanggung jawab keluarga.
Dua film Indonesia, Tunggu Aku Sukses Nanti dan 1 Kakak 7 Ponakan, menawarkan gambaran berbeda tentang fase tersebut.
Keduanya memang memiliki cerita yang tidak sama. Namun, ada satu benang merah yang membuat kedua film ini terasa begitu dekat dengan kehidupan Gen Z: keinginan untuk menjalani hidup sendiri harus berhadapan dengan realitas dan tanggung jawab.
1. Tunggu Aku Sukses Nanti: Ketika Pertanyaan “Kapan Sukses?” Terasa Menyakitkan

Tunggu Aku Sukses Nanti mengikuti Arga, seorang pemuda yang menghadapi tekanan karena belum memiliki pekerjaan tetap.
Masalah Arga bukan cuma soal mendapatkan pekerjaan. Ia juga harus berhadapan dengan keluarga, kondisi ekonomi, hubungan pribadi, serta stigma sebagai seseorang yang dianggap belum berhasil.
Momen Lebaran menjadi salah satu bagian penting dalam cerita karena pertemuan keluarga justru membuat Arga semakin merasakan tekanan.
Ada orang-orang yang sudah memiliki karier, kehidupan mapan, dan pencapaian masing-masing. Sementara Arga masih berada di titik ketika dirinya bahkan belum tahu apakah jalan yang sedang ditempuh akan membawanya menuju kesuksesan.
Di sinilah film tersebut terasa dekat dengan kehidupan banyak anak muda.
Setelah lulus sekolah atau kuliah, pertanyaan yang muncul berubah.
Bukan lagi:
“Sudah belajar?”
Melainkan:
“Sudah kerja?”
Lalu berubah lagi menjadi:
“Kerja di mana?”
Dan setelah itu:
“Kapan sukses?”
Bagi orang yang sedang berjuang, pertanyaan tersebut bisa terasa seperti sebuah pengingat bahwa dirinya belum mencapai standar yang diharapkan orang lain.
2. Gen Z dan Rasa Tertinggal yang Tidak Selalu Terlihat

Salah satu alasan Tunggu Aku Sukses Nanti mudah dikaitkan dengan Gen Z adalah persoalan perbandingan pencapaian.
Generasi muda sekarang hidup di era ketika keberhasilan orang lain dapat muncul setiap hari di layar ponsel.
Teman mendapatkan pekerjaan.
Teman lainnya naik jabatan.
Ada yang membuka bisnis.
Ada yang membeli kendaraan.
Ada yang menikah.
Ada yang pergi ke luar negeri.
Sementara seseorang mungkin masih mengirim CV, menunggu panggilan interview, atau bekerja di tempat yang sebenarnya tidak sesuai dengan cita-citanya.
Akibatnya, muncul perasaan:
“Kenapa semua orang sudah maju, sementara aku masih di sini?”
Film ini menarik karena tidak menjadikan Arga sebagai sosok yang langsung menemukan jawaban. Ia harus melewati proses, kegagalan, tekanan, dan keraguan terlebih dahulu.
Itulah bagian yang terasa realistis.
3. “Gemilang” Perunggu Membuat Perjuangan Arga Semakin Terasa

Salah satu elemen yang memperkuat Tunggu Aku Sukses Nanti adalah pemilihan soundtrack.
Lagu “Gemilang” dari Perunggu menjadi bagian dari soundtrack film tersebut. Menurut sutradara Naya Anindita, lagu itu dipilih ketika tim mencari musik yang cocok untuk menggambarkan semangat perjuangan. Ardit Erwandha kemudian mengusulkan Perunggu karena dianggap cocok dengan gambaran para “pejuang cuan”.
Pilihan tersebut terasa masuk akal.
Perunggu sendiri dikenal dengan karya-karya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan keresahan pekerja. Sementara Tunggu Aku Sukses Nanti berbicara tentang seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pijakan dalam kehidupan.
“Gemilang” pun bukan lagu yang dibuat khusus untuk film. Lagu tersebut merupakan bagian dari album Dalam Dinamika milik Perunggu.
Ketika dipertemukan dengan perjalanan Arga, lagu tersebut mendapatkan konteks baru.
Bukan sekadar musik latar, tetapi seperti suara seseorang yang sedang berkata:
Aku belum sampai. Tapi aku masih berjalan.
4. Kalau Arga Sedang Mencari Jalan, Moko Sudah Harus Memikul Beban

Di sinilah 1 Kakak 7 Ponakan memiliki posisi yang berbeda.
Film garapan Yandy Laurens ini mengikuti Moko, mahasiswa arsitektur tingkat akhir yang sedang menunggu kelulusan.
Sebelum masalah datang, Moko sebenarnya memiliki rencana hidup sendiri. Ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Columbia University dan memiliki rencana membangun perusahaan bersama kekasihnya, Maurin.
Namun semuanya berubah setelah tragedi keluarga.
Kakak Moko, Agnes, dan suaminya, Atmo, meninggal dunia. Moko kemudian harus berhadapan dengan tanggung jawab terhadap anak-anak yang ditinggalkan keluarganya.
Tiba-tiba, masa depan yang sebelumnya sudah ia rancang tidak lagi sesederhana itu.
5. Inilah Wajah “Sandwich Generation” yang Membuat Film Ini Relate

1 Kakak 7 Ponakan sering dibaca melalui perspektif generasi sandwich.
Moko berada di usia ketika seharusnya ia membangun karier, mengejar pendidikan, dan mempersiapkan masa depan.
Namun di saat yang sama, ia harus memikirkan keluarga.
Ini menciptakan dilema yang sangat manusiawi:
Kalau aku mengejar mimpiku, siapa yang akan mengurus keluargaku?
Tetapi jika seluruh hidupnya diberikan untuk keluarga, muncul pertanyaan lain:
Lalu kapan aku bisa menjalani hidupku sendiri?
Konflik seperti ini membuat Moko terasa bukan sekadar karakter film.
Ia menjadi gambaran anak muda yang harus dewasa lebih cepat karena keadaan.
6. Dua Film, Dua Jenis Kelelahan

Kalau diperhatikan lebih jauh, Arga dan Moko sama-sama lelah, tetapi penyebabnya berbeda.
Arga lelah karena belum sampai pada titik yang diharapkan orang lain.
Moko lelah karena harus mengurus kehidupan orang lain ketika dirinya sendiri masih ingin membangun masa depan.
Arga bertanya:
“Kapan aku sukses?”
Sementara konflik Moko terasa seperti:
“Kapan aku boleh memikirkan diriku sendiri?”
Dua pertanyaan tersebut sama-sama menggambarkan keresahan anak muda ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana.
7. Kesuksesan Tidak Selalu Berarti Punya Banyak Uang

Menariknya, kedua film ini sama-sama membuka ruang untuk mempertanyakan definisi sukses.
Dalam Tunggu Aku Sukses Nanti, sukses tidak semata-mata tentang mendapatkan pekerjaan bergengsi. Ada keinginan untuk membuktikan diri dan memenuhi harapan keluarga.
Sedangkan dalam 1 Kakak 7 Ponakan, kesuksesan harus berhadapan dengan pengorbanan.
Moko memiliki kesempatan untuk mengejar masa depan yang besar, tetapi tanggung jawab keluarga membuatnya harus mempertimbangkan ulang pilihan tersebut.
Akhirnya, kesuksesan bukan lagi sekadar:
punya pekerjaan bagus + gaji tinggi + kehidupan mapan.
Bisa jadi sukses adalah kemampuan seseorang untuk menemukan pilihan hidup yang tetap membuatnya merasa dirinya sendiri, tanpa meninggalkan orang-orang yang membutuhkan.
8. Kenapa Dua Film Ini Cocok Dibahas sebagai “Film Gen Z”?

Karena Gen Z tidak sedang menghadapi satu masalah yang sama.
Ada yang sedang mencari pekerjaan.
Ada yang bekerja untuk membantu keluarga.
Ada yang menjadi tulang punggung keluarga.
Ada yang ingin kuliah tetapi terkendala biaya.
Ada yang ingin mengejar karier tetapi harus memikirkan orang tua.
Ada pula yang hanya sedang berusaha bertahan dari tekanan untuk terlihat berhasil.
Tunggu Aku Sukses Nanti dan 1 Kakak 7 Ponakan memperlihatkan dua sisi dari realitas tersebut.
Yang satu berbicara tentang perjuangan menemukan tempat di dunia kerja.
Yang lain berbicara tentang ketika tanggung jawab keluarga membuat seseorang harus mengorbankan sebagian rencana hidupnya.
Jadi, Mana yang Paling Relate?
Jawabannya mungkin tergantung fase hidup masing-masing.
Kalau kamu sedang berada di fase:
“Aku sudah lulus, tapi kok belum dapat kerja?”
Tunggu Aku Sukses Nanti kemungkinan akan terasa lebih dekat.
Namun kalau kamu sedang berada di posisi:
“Aku ingin mengejar hidupku sendiri, tapi keluargaku membutuhkan aku,”
maka 1 Kakak 7 Ponakan bisa terasa jauh lebih menusuk.
Dan mungkin justru itu alasan kedua film tersebut menarik.
Mereka tidak menjual mimpi bahwa semua orang akan sukses dengan cara yang sama.
Mereka memperlihatkan bagian yang sering tidak terlihat dari perjalanan menuju dewasa: bingung, capek, gagal, mengalah, bekerja, bertanggung jawab, lalu mencoba lagi.
Pada akhirnya, Gen Z mungkin tidak membutuhkan film yang selalu berkata “kamu pasti sukses.”
Kadang yang lebih dibutuhkan adalah film yang berkata:
“Kalau kamu sekarang masih berjuang, kamu tidak sendirian.”
Dan dari Arga yang masih mengejar kesuksesan hingga Moko yang harus menunda sebagian mimpinya demi keluarga, dua film ini menunjukkan satu hal penting:
Menjadi dewasa bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Kadang, menjadi dewasa adalah tetap berjalan meskipun jalan yang dipilih tidak pernah sesuai dengan rencana awal.