
Jakarta, September 2026 – Aktivitas gunung api di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus di Selat Sunda. Namun, Anak Krakatau bukan satu-satunya gunung api yang tengah menunjukkan aktivitas. Sejumlah gunung lain di berbagai wilayah Indonesia juga tercatat mengalami erupsi atau berada pada tingkat aktivitas yang perlu diwaspadai.
Fenomena ini membuat masyarakat kembali bertanya-tanya: gunung apa saja yang sedang erupsi di Indonesia dan bagaimana statusnya?
Berdasarkan pemantauan Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), beberapa gunung api masih menunjukkan aktivitas signifikan pada awal September 2026. Berikut rangkumannya.
1. Gunung Anak Krakatau – Level III (Siaga)

Nama Gunung Anak Krakatau menjadi yang paling banyak diperbincangkan setelah mengalami erupsi menerus pada awal September.
Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda, secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, ini mengalami rangkaian erupsi sejak kembali aktif pada Juli 2026. Pada 5 September 2026, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh dan semburan merah menyala yang menyerupai fenomena lava fountain atau air mancur lava.
Badan Geologi mencatat aktivitas Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Badan Geologi juga menyebut tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi saat itu tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski begitu, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.
Erupsi Anak Krakatau juga berdampak pada atmosfer dan penerbangan. BMKG mendeteksi sebaran abu vulkanik hingga wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu dan perairan di sekitarnya, tergantung ketinggian serta arah pergerakan abu.
2. Gunung Semeru – Level III (Siaga)

Berpindah ke Jawa Timur, Gunung Semeru juga kembali mengalami erupsi pada awal September.
Pada Minggu, 6 September 2026, Semeru dilaporkan mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak.
Semeru memang dikenal sebagai salah satu gunung api Indonesia yang aktivitas erupsinya relatif sering. Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan gunung tetap diminta memperhatikan rekomendasi PVMBG dan tidak memasuki wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana.
Status aktivitas Semeru tercatat berada pada Level III atau Siaga.
3. Gunung Sinabung – Level III (Siaga)

Gunung api lain yang mengalami peningkatan status adalah Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Badan Geologi menaikkan status Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 31 Agustus 2026 setelah pemantauan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.
Dalam laporan Badan Geologi, erupsi Sinabung menghasilkan kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal yang condong ke arah timur dan tenggara. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 120 mm dan masih berlangsung ketika laporan dibuat.
Dengan status Siaga, masyarakat dilarang melakukan aktivitas pada area tertentu, termasuk radius 3 kilometer dari puncak serta radius sektoral hingga 6 kilometer di sektor selatan-timur.
4. Gunung Lewotobi Laki-laki – Level III (Siaga)

Dari Nusa Tenggara Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki juga masih menjadi salah satu gunung api yang perlu diperhatikan.
Gunung yang berada di Flores Timur tersebut masih berstatus Level III (Siaga). Aktivitas erupsi juga masih menjadi perhatian karena dapat menghasilkan abu vulkanik, lontaran material hingga potensi bahaya lain di sekitar kawasan gunung.
Pada erupsi yang dilaporkan pada akhir Agustus 2026, kolom abu tercatat mencapai sekitar 1 kilometer di atas puncak. Masyarakat di sekitar kawasan rawan diminta mengikuti rekomendasi resmi dan menghindari zona yang telah ditetapkan sebagai kawasan berbahaya.
5. Gunung Ibu – Masih Menunjukkan Aktivitas Erupsi

Di Maluku Utara, Gunung Ibu juga termasuk gunung api yang aktivitasnya perlu terus dipantau.
Gunung yang berada di Pulau Halmahera ini dikenal memiliki aktivitas erupsi yang berlangsung berulang. Pada awal September 2026, laporan mengenai aktivitas erupsi Gunung Ibu turut masuk dalam daftar gunung api yang mengalami letusan pada periode yang sama.
Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung api di Indonesia tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa atau sekitar Selat Sunda, tetapi juga terjadi di kawasan timur Indonesia.
6. Gunung Ili Lewotolok – Masih Aktif

Selain Lewotobi Laki-laki, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur juga masih menunjukkan aktivitas vulkanik.
Ili Lewotolok termasuk gunung api aktif yang terus dipantau oleh PVMBG. Aktivitas erupsi berupa lontaran abu vulkanik juga tercatat dalam periode awal September 2026.
Masyarakat dan wisatawan tetap perlu memperhatikan rekomendasi resmi karena status gunung api dapat berubah mengikuti hasil pemantauan aktivitas vulkanik.
Lalu, Apakah Semua Gunung Ini Saling Berkaitan?
Banyaknya gunung yang mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan memang terlihat mencolok. Namun, bukan berarti erupsi tersebut otomatis saling berhubungan.
Indonesia memang berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik dan memiliki banyak gunung api aktif. Karena karakter masing-masing gunung berbeda, aktivitas satu gunung tidak bisa langsung dianggap sebagai penyebab erupsi gunung lainnya.
Sejumlah laporan media pada 7 September 2026 juga mengutip keterangan PVMBG bahwa aktivitas beberapa gunung yang terjadi berdekatan tersebut tidak menunjukkan bahwa gunung-gunung tersebut saling terhubung secara langsung.
Bagaimana dengan Gunung Merapi?
Selain gunung-gunung yang mengalami erupsi, Gunung Merapi juga masih berada pada Level III (Siaga).
Laporan aktivitas 6 September 2026 menunjukkan Merapi masih mengalami guguran lava. Dalam periode 24 jam, tercatat 14 kali guguran lava pijar menuju sektor barat daya dengan jarak luncur maksimum sekitar 2 kilometer dari puncak.
Artinya, Merapi tetap membutuhkan kewaspadaan meskipun pemberitaan awal September lebih banyak didominasi erupsi Anak Krakatau.
Tidak Ada Gunung Api Level IV (Awas)
Satu hal penting yang perlu diketahui masyarakat adalah status Siaga tidak sama dengan Awas.
Berdasarkan informasi MAGMA Indonesia yang dikutip pada 7 September 2026, tidak ada gunung api di Indonesia yang berada pada Level IV atau Awas pada saat tersebut.
Status gunung api sendiri terdiri dari empat tingkatan:
- Level I – Normal: aktivitas gunung berada pada kondisi normal.
- Level II – Waspada: mulai terdapat peningkatan aktivitas vulkanik.
- Level III – Siaga: peningkatan aktivitas semakin signifikan dan potensi bahaya perlu diwaspadai.
- Level IV – Awas: aktivitas semakin tinggi dan berpotensi mengancam masyarakat sehingga diperlukan tindakan mitigasi lebih serius.
Karena status dapat berubah sewaktu-waktu, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat pemberitaan di media sosial. Informasi mengenai status gunung api sebaiknya merujuk pada PVMBG, Badan Geologi, MAGMA Indonesia, BMKG, BNPB, serta BPBD setempat.
Erupsi Bersamaan Bukan Berarti Indonesia Akan Mengalami Bencana Besar

Munculnya beberapa erupsi dalam waktu yang berdekatan tentu membuat masyarakat khawatir. Namun, fenomena tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai tanda bahwa Indonesia akan mengalami bencana besar secara serentak.
Yang paling penting adalah memahami bahwa setiap gunung memiliki karakter, status, zona bahaya, serta rekomendasi yang berbeda.
Untuk Anak Krakatau, misalnya, perhatian utama saat ini berkaitan dengan erupsi, lava, lontaran batu pijar dan abu vulkanik. Sementara pada gunung lain, ancaman dapat berupa awan panas, guguran lava, abu vulkanik maupun lahar.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api sebaiknya tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan peringatan resmi.
Kesimpulan
Gunung Anak Krakatau bukan satu-satunya gunung api yang sedang menjadi perhatian di Indonesia pada September 2026. Sejumlah gunung lain seperti Semeru, Sinabung, Lewotobi Laki-laki, Ibu dan Ili Lewotolok juga tercatat mengalami aktivitas erupsi atau vulkanik yang signifikan.
Di sisi lain, Gunung Merapi masih berstatus Siaga dan terus menunjukkan aktivitas berupa guguran lava.
Fenomena banyaknya gunung api yang aktif dalam periode berdekatan memang menarik perhatian, tetapi tidak berarti seluruh aktivitas tersebut saling berkaitan. Masyarakat sebaiknya tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi dari lembaga pemantau kebencanaan.
Yang terpenting, jangan mendekati zona bahaya hanya demi melihat atau merekam erupsi. Gunung api memang bisa menjadi pemandangan spektakuler, tetapi tetap merupakan fenomena alam yang memiliki risiko serius.