
Jujur aja—film Tiba-Tiba Setan ini bukan datang dengan premis yang revolusioner. Sekelompok saudara, hotel tua, warisan, lalu hantu. Kita semua sudah pernah lihat formula ini.
Tapi yang bikin menarik justru bukan formulanya.
Melainkan kebodohan karakter-karakternya.
Semuanya dimulai dari ide yang, kalau dipikir-pikir, sangat Indonesia: mau cepat dapat untung, tapi lewat cara yang agak licik. Alih-alih menyelesaikan masalah secara dewasa, mereka malah bikin skenario “hantu bohongan” buat nakut-nakutin satu sama lain.
Dan seperti yang bisa ditebak—rencana bodoh hampir selalu berujung lebih bodoh lagi.
Bedanya, kali ini semesta ikut campur. Hantu beneran muncul.

Lucunya, di titik itu film ini seperti bilang: “Kalian kira kalian yang paling jahat? Santai, ada yang lebih.”
Di sinilah kekuatan film ini mulai terasa. Bukan di jumpscare-nya. Bukan juga di plot twist-nya. Tapi di cara dia memperlihatkan bahwa manusia sering kali lebih menjengkelkan daripada makhluk gaib.
Apalagi kalau sudah urusan warisan.
Kehadiran Oki Rengga dan Lolox bikin semuanya terasa makin “berisik”—dalam arti yang bagus. Mereka seperti mewakili tipe orang yang selalu ada di situasi kacau: banyak komentar, minim solusi.
Dan anehnya, justru itu yang bikin film ini hidup.
Sementara Ratu Felisha hadir seperti pengingat bahwa film ini sebenarnya punya akar horor yang lebih serius. Di tengah kekacauan dan dialog receh, dia seperti menjaga agar film ini tidak sepenuhnya jadi parodi.

Tapi mari jujur—film ini tidak benar-benar peduli untuk jadi “film horor yang menakutkan”.
Dia lebih tertarik jadi cermin.
Cermin yang agak nyebelin, karena apa yang kita lihat di layar terasa dekat: keluarga yang kelihatannya normal, tapi begitu ada uang, semua berubah jadi kompetitif, manipulatif, dan… sedikit kejam.
Hotel tua di film ini bukan tempat paling menyeramkan.
Orang-orang di dalamnya jauh lebih berpotensi bikin masalah.
Dan mungkin itu kenapa film seperti ini tetap laku. Karena penonton datang bukan cuma buat lihat hantu, tapi buat melihat versi ekstrem dari sesuatu yang sebenarnya familiar.
“Tiba-Tiba Setan” pada akhirnya bukan soal “apakah hantunya seram”.

Tapi soal satu pertanyaan yang lebih mengganggu:
Kalau kamu ada di situ… kamu bakal jadi korban?
Atau justru bagian dari masalah?