Film Uang Pasolo: Komedi Satir Tentang Ambisi, Uang, dan Realita Hidup Masyarakat

Film Uang Passolo resmi tayang di bioskop Indonesia pada 8 Januari 2026, dan langsung menarik perhatian banyak penonton karena tema uniknya yang dekat dengan kehidupan sehari‑hari masyarakat Sulawesi Selatan. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan kritik sosial dan refleksi budaya melalui kisah cinta, pernikahan, serta tekanan ekonomi yang sering dijumpai di masyarakat Bugis‑Makassar.

Dengan genre drama komedi, Uang Passolo menggabungkan humor, drama emosional, dan pesan budaya yang kuat sehingga mampu memikat berbagai kalangan penonton. Artikel ini akan mengulas secara lengkap mulai dari sinopsis, latar budaya, pemeran utama, pesan moral, hingga dampak sosial film ini di dunia perfilman Indonesia.


Sinopsis Film Uang Passolo

Film ini bercerita tentang Biba (diperankan oleh Mashita Asapa), seorang guru yang berpenghasilan pas‑pasan, dan Rizky (diperankan oleh Imran Ismail), seorang videografer pernikahan yang sedang mengalami masa sulit dalam hidupnya. Kedua tokoh ini memiliki mimpi sederhana: menikah dan memulai kehidupan baru bersama.

Namun, impian itu menjadi rumit ketika tradisi dan tuntutan keluarga datang menghampiri. Dalam adat suku Bugis‑Makassar, ada tradisi memberikan uang passolo — semacam sumbangan atau hadiah yang diberikan kepada pengantin oleh tamu undangan. Nama tradisi ini menjadi judul dan pusat konflik utama film.

Biba dan Rizky hanya ingin pesta pernikahan yang sederhana, tetapi keluarga memaksa mereka untuk mengadakan pesta yang lebih meriah dengan tradisi uang passolo yang harus dijalankan secara sempurna. Tekanan sosial dan gengsi keluarga membuat Rizky terpaksa mempertaruhkan aset berharga keluarganya demi memenuhi tuntutan tersebut. Perjalanan menuju pesta pernikahan ini dipenuhi momen lucu, haru, dan refleksi budaya.


Latar Belakang dan Produksi

Uang Passolo disutradarai oleh Andi Burhamzah dan diproduseri oleh Adhy Basto, yang juga ikut tampil dalam film. Awalnya cerita ini hanya dikembangkan sebagai konten media sosial, namun karena kekuatan narasinya, akhirnya dikembangkan menjadi film layar lebar oleh 786 Production, Rumpi Entertainment, dan Timur Pictures. Proses syuting berlangsung sekitar 26 hari di Desa Parintunan, Kabupaten Pangkep, demi mendapat nuansa latar budaya yang autentik.

Gala premiere film ini sendiri digelar di Makassar, dihadiri oleh pemeran, kru, tokoh budaya, serta pejabat setempat, termasuk Wakil Wali Kota Makassar, yang memuji film ini sebagai karya anak daerah yang berpotensi mengangkat budaya lokal.


Pemeran Utama dan Karakter

Film ini menampilkan sejumlah aktor yang dikenal serta talenta baru dari dunia konten kreator Makassar:

  • Imran Ismail sebagai Rizky — Videografer yang berjuang menata hidup dan cinta.
  • Mashita Asapa sebagai Biba — Guru sederhana yang ingin membangun kehidupan baru bersama pria yang dicintainya.
  • Jade Thamrin, Tumming, Abu, dan Adhy Basto ikut memperkuat cerita sebagai karakter pendukung yang menjadi jantung komedi dan drama film.

Keberadaan konten kreator seperti Adhy Basto dan Jade Thamrin dalam film ini menjadi nilai tambah tersendiri, karena menghadirkan gaya akting baru dan segar di tengah aktor profesional.


Makna Budaya: Apa Itu Uang Passolo?

Istilah uang passolo sendiri merujuk pada tradisi dalam budaya Bugis‑Makassar di mana tamu undangan memberikan sumbangan berupa uang atau barang kepada pasangan pengantin. Tradisi ini sering kali dilakukan secara formal di hadapan tamu dan bisa jadi simbol status sosial keluarga.

Film ini menggunakan tradisi tersebut sebagai metafora untuk tekanan sosial dan gengsi keluarga terhadap konsep pernikahan. Bagi banyak pasangan muda, tuntutan budaya sering kali menjadi beban tersendiri, terutama ketika kondisi ekonomi belum stabil. Melalui cerita ini, penonton diajak untuk mempertanyakan: apakah tradisi harus selalu dijalankan secara kaku? Atau apakah ada ruang bagi cinta dan kebahagiaan sederhana di balik ritual sosial?


Tema & Pesan Moral

1. Konflik Tradisi vs Realitas Ekonomi

Pesan utama film ini adalah bagaimana tradisi yang dianggap sakral bisa jadi sumber konflik ketika tidak disesuaikan dengan realitas kehidupan ekonomi masyarakat modern. Uang Passolo menghadirkan kritik halus terhadap ekspektasi sosial yang terkadang memberatkan pasangan muda.

2. Persepsi Gengsi & Harga Diri

Film ini juga menggambarkan bagaimana gengsi keluarga bisa mempengaruhi keputusan besar dalam hidup, seperti pernikahan. Tantangan bagi tokoh utama adalah menemukan keseimbangan antara menghormati tradisi dan mengejar kebahagiaan pribadi.

3. Cinta yang Lebih Tinggi dari Tekanan Sosial

Meskipun dibalut drama dan komedi, inti film ini tetap tentang cinta dua insan yang berusaha hidup bersama tanpa harus terjebak pada nilai simbolik yang justru memberatkan mereka.


Respon Publik & Kritis

Sejak premiernya, Uang Passolo mendapat apresiasi luas dari penonton dan tokoh masyarakat dalam kota Makassar. Pemerintah setempat melihat film ini sebagai sarana city branding yang efektif dalam mempromosikan budaya dan kreativitas lokal ke tingkat nasional.

Penonton umumnya memberi komentar positif terhadap kombinasi humor dan drama yang membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan sehari‑hari. Film ini tidak hanya menghibur, tapi juga membuka diskusi tentang bagaimana tradisi dijalankan di era modern tanpa menyinggung nilai budaya itu sendiri.


Perbandingan dengan Film Serupa

Jika dilihat dari tema, Uang Passolo memiliki kemiripan dengan film‑film Indonesia lain yang juga mengangkat tradisi pernikahan lokal, seperti Uang Panai. Walaupun berbeda judul dan cerita, keduanya sama‑sama mengeksplorasi tekanan budaya terhadap pasangan muda. Namun Uang Passolo menonjol karena fokusnya pada tradisi passolo khas Bugis‑Makassar yang belum banyak terekspos dalam perfilman nasional.


Kesimpulan: Film Lokal dengan Pesan Global

Uang Passolo bukan sekadar film drama komedi ringan; ia adalah cerita yang mampu menyentuh berbagai lapisan kehidupan masyarakat Indonesia, terutama tentang hubungan antara tradisi, cinta, ekonomi, dan ekspektasi sosial. Film ini memadukan budaya lokal dan isu universal sehingga dapat dinikmati oleh penonton luas, tak hanya dari Sulawesi Selatan.

Dengan pemeran yang kuat, narasi yang relatable, dan pesan moral yang dalam, Uang Passolo layak menjadi tontonan wajib di bioskop yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan bahan renungan tentang makna pernikahan dan tradisi dalam kehidupan modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *